Berita Pamekasan

Kegiatan KIM

Berita UMKM

Berita Terkini

Menteri Keuangan Memberikan Penghargaan kepada Pemkab Pamekasan

PAMEKASAN HEBAT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan menerima piagam penghargaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia atas capaian standar tertinggi dalam bilang laporan administrasi penggunaan anggaran APBD 2018 dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP).

"Penghargaan ini diperoleh, berkat kerja sama tim pemkab yang baik, serta komitmen yang tinggi untuk mengabdi kepada rakyat dengan cara mentaati ketentuan perundang-undangan yang ada," kata Wakil Bupati Pamekasan Raja'e, Kamis (3/10/2019).

Wabup Raja'e menerima langsung penganugerahan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo pada acara Penyerahan Piagam Penghargaan Pemerintah Republik Indonesia terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Jatim tahun Anggaran 2018 yang digelar di Gedung Grahadi  Jalan Gubernur Suryo, Rabu (2/10/2019). [Baca Juga: Dua Kelurahan Terima Program Berseri Pemprov Jatim]

Penghargaan yang diterima Pemkab Pamekasan tahun ini, merupakan kali kelima dan diharapkan prestasi ini terus dipertahankan kedepan.

Wakil Bupati Pamekasan Raja'e mengaku bersyukur atas raihan opini WTP terhadap LKPD Pamekasan tahun anggaran 2018 itu.

"Berkat kerjasama seluruh pihak, serta profesionalisme kinerja seluruh elemen pemerintahan, penghargaan ini bisa diraih kembali," katanya, menjelaskan.

Opini WTP itu bagian dari bentuk akuntabilitas kinerja seluruh elemen pemerintahan di Kabupaten Pamekasan dalam mengelola keuangan daerah. [Baca Juga: Tim Pamekasan Borong Prestasi di Kejurprov Jatim]

Dirinya berharap, profesionalitas kinerja, serta kerjasama seluruh elemen pemerintah terus ditingkatkan.

Selain itu, sambung dia, komitmen untuk melakukan perbaikan di seluruh sektor akan terus menjadi perioritas pembangunan daerah.

Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan ini juga mengingatkan, agar orientasi setiap penggunaan anggaran diarahkan pada "money follow program".

"Dengan demikian, manfaat penggunaan keuangan akan betul-betul dirasakan oleh masyarakat Pamekasan secara luas," katanya, menjelaskan. (PAMEKASAN HEBAT)

Diskominfo Pamekasan Kirim Tiga KIM ke JKF 2019 di Magetan

PAMEKASAN HEBAT - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pamekasan mengirim tiga Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) untuk mengikuti kegiatan Jatim Kominfo Festival (JKF) 2019 di Kabupaten Magetan yang dijadwalkan berlangsung tanggal 1 hingga 4 Oktober 2019.

Menurut Kasi Pembinaan Media Komunikasi Diskominfo Kabupaten Pamekasan Herlina, Senin (30/9/2019) ketiga kelompok informasi masyarakat yang diutus mengikuti JKF di Magetan itu, masing-masing KIM Bintang, KIM Pamekasan Hebat dan KIM Kamboja.

"Ketiga KIM memiliki fokus informasi berbeda. Kim Bintang pada upaya antisipasi kabar bohong, Pamekasan Hebat pada jurnalisme publik dan ekonomi kreatif, sedangkan KIM Kamboja fokus pada pelestarian budaya dan lingkungan sehat," katanya, seperti dilansir Jatim.Antaranews.Com.

JKF ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar Pemprov Jatim dalam rangka menumbuhkembangkan dan memberdayakan kelompok informasi masyarakat dan literasi media warga. [Baca Juga: Jatim Kominfo Festival Digelar di Magetan 1-4 Oktober 2019]

Kegiatan yang akan berlangsung selama empat hari itu, menyajikan beragam kegiatan dan pendidikan bagi para pengurus KIM se-Jawa Timur.

Antara lain seminar tentang literasi dan pemberdayaan media warga sebagai media komunitas di kalangan masyarakat, serta pembinaan bagi pegiat media sosial agar aktivitas mereka bernilai positif, dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dunia usaha.

"Disamping itu, keberadaan KIM ini juga diharapkan oleh pemerintah bisa menjadi media penyeimbang bahkan bisa membuat counter opinion terhadap penyebaran informasi bohong," katanya. [Baca Juga: KIM 'Pamekasan Hebat' Kampanyekan Literasi Bersama Bupati-Wabup]

Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu kabupaten di Pulau Madura yang memiliki kelompok informasi masyarakat paling banyak dibanding tiga kabupaten lain di Madura.

Menurut data, di Kabupaten Pamekasan terdapat 11 KIM. Namun, dari jumlah itu, hanya tiga KIM yang aktif menggelar kegiatan, sehingga perwakilan ketiga KIM itu dikirim untuk mengikuti kegiatan Jatim Kominfo Festival (JKF) 2019 se-Jawa Timur di Kabupaten Magetan. (PAMEKASAN HEBAT)

Jatim Kominfo Festival Digelar di Magetan 1-4 Oktober 2019


PAMEKASAN HEBAT - Jatim Kominfo Festival 2019 akan digelar di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mulai tanggal 1 hingga Oktober 2019, dan beragam kegiatan digelar dalam acara ini.

Berikut jadwal dan jenis kegiatan yang akan digelar di JKF 2019 yang akan diikuti oleh berbagai kelompok informasi masyarakat (KIM) se-Jawa Timur:

Warga Pamekasan ini Raih Gelar Doktor di Usia 27 Tahun

PAMEKASAN HEBAT - Warga asal Desa Teja Timur, Pamekasan Lailatul Qomariyah berhasil meraih gelar doktor di usia 27 dengan nilai Cum Laude, 4.0. Anak pasangan suami istri Saningrat (43) dan istrinya Rusmiati (40) ini berhasil menempuh pendidikan di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Saningrat (43) dan istrinya Rusmiati (40) tidak menyangka dirinya akan mampu mengantarkan anak sulungnya, Lailatul Qomariyah menempuh pendidikan di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hingga lulus doktor.

Apalagi pasangan suami istri asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, ini sehari-hari hanya menarik becak dan menjadi buruh tani.  Saningrat menceritakan bagaimana keluarganya mengantarkan anaknya bisa menempuh pendidikan sampai S3.

Lailatul Qomariyah sudah dikenal di keluarganya sebagai anak yang cerdas sejak di bangku sekolah dasar, dan Saningrat tidak pernah memberikan pendidikan khusus kepada anaknya itu. Ia hanya sibuk bekerja sebagai penarik becak dan istrinya menjadi buruh tani.

Sejak SD, Lailatul terus-menerus mendapat ranking 1. "Setelah lulus SD, anak saya mendaftar di SMP negeri. Alhamdulillah diterima di SMPN 1 dan SMPN 4 Pamekasan. Namun, pilihannya jatuh ke SMPN 4 Pamekasan. Saya tidak tahu mengapa Lailatul memilih SMPN 4 Pamekasan," ujar Saningrat saat ditemui di kediamannya oleh sejumlah wartawan media massa Pamekasan, Minggu (8/9/2019). [Baca Juga: Tim Pamekasan Borong Medali di Kejurprov Jatim]

Selama duduk di bangku SMP, Lailatul yang lahir pada 16 Agustus 1992 selalu meraih ranking 1 di sekolahnya. Hingga akhirnya dia diterima di SMAN 1 Pamekasan dengan meraih beasiswa.

Saat di bangku SMA, Lailatul dianggap orang kaya karena setiap hari selalu diantar dan dijemput dengan becak. Waktu itu, anak yang bisa diantar dan dijemput becak tergolong anak orang kaya, padahal yang mengantar dan menjemput Lailatul adalah ayahnya sendiri.

"Oleh teman-temannya, Lailatul dibilang anak orang mampu, padahal yang narik becak saya sendiri sebagai ayahnya," ujar Suningrat.  [Baca Juga: Pamekasan Raih Penghargaan Sebagai Kabupaten Peduli Produk Unggulan]

Entah karena apa, Lailatul memutuskan diri agar tidak diantar dan dijemput oleh ayahnya menggunakan becak. Dia minta dibelikan sepeda ontel agar tidak merepotkan ayahnya. Sebagai ayah, Suningrat tidak langsung memenuhi permintaan anaknya karena tidak punya uang. Untuk memenuhi permintaan anaknya, Suningrat harus menunggu masa panen tembakau usai.

"Untuk membeli sepeda ontel anak saya, saya harus menunggu hasil panen tembakau dan menguras tabungan selama setahun. Waktu itu harga sepedanya Rp 1 juta," ujarnya.

Setelah punya sepeda ontel, Lailatul yang pernah menempuh pendidikan di TK Muslimat NU Pamekasan rajin mengikuti les selama dua kali dalam seminggu. Ayahnya sendiri tidak tahu dari mana biaya les diperoleh.  Selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Pamekasan, Lailatul yang juga dikenal kutu buku di rumahnya selalu meraih ranking 1 yang sekaligus mengantarkan dirinya diterima di dua perguruan tinggi terkemuka di Surabaya.

"Setelah lulus SMA, Lailatul diterima di Unair Surabaya dan di ITS Surabaya. Tapi pilihannya jatuh ke ITS," ungkap Saningrat.  [Baca Juga: Milenial Job Fair 2019 Tekan Pengangguran di Pamekasan]

Saningrat sempat membujuk Lailatul agar memilih kuliah di Pamekasan saja. Pertimbangannya, karena Lailatul anak perempuan dan Saningrat sendiri menganggap dirinya tidak akan mampu membiayainya. Apalagi, Saningrat sering mendapat cibiran dari beberapa orang bahwa dirinya tidak akan mampu membiayai pendidikan anaknya.

"Cibiran tetangga ke saya begini, 'Jadi tukang becak mau menyekolahkan anaknya ke Surabaya, dapat uang dari mana, apalagi tanahnya hanya sepetak yang ditempati sebagai rumahnya'," tutur Saningrat.

Namun, cibiran orang itu dianggap sebagai motivasi oleh Saningrat. Begitu pula dengan Lailatul. Lailatul sendiri sudah bulat tekadnya untuk tetap melanjutkan pendidikan ke ITS sambil menutup telinga dari cibiran para tetangga. [Baca Juga: MTsN 3 Pamekasan Raih Penghargaan Studi ke Korea]

"Bapak dan ibu tidak perlu kawatir soal biaya kuliah saya. Semoga saya mendapatkan rezeki sampai lulus," tutur Saningrat, mengenang kata-kata anaknya ketika hendak berangkat ke Surabaya. Anak kebanggaan Saningrat Setelah Lailatul Qomariyah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa baru di ITS, Saningrat dipanggil untuk datang ke kampus ITS. Saningrat datang dengan baju seadanya dan bersandal jepit.

Untuk menemukan anaknya, Saningrat berkeliling kampus ITS kurang lebih satu jam lebih karena tidak tahu di mana ruangan yang harus dituju. Beruntung ada satpam yang mengarahkan Saningrat ke ruang kuliah Fakutas Teknologi Industri.

"Ketika saya mau masuk ke ruang pertemuan anak saya, saya lihat orangtua dan mahasiswa yang lain turun dari mobil pribadi semua dan berdasi, sedangkan saya hanya bersandal jepit. Tapi anak saya tidak minder dan mengajak saya masuk ke dalam ruangan," kata Saningrat. [Baca Juga: Data Jurnalis di Kabupaten Pamekasan]

Selama menempuh pendidikan S1, Saningrat dan istrinya tidak pernah dimintai biaya kuliah dan biaya hidup oleh Lailatul. Dia sudah hidup mandiri di Surabaya dengan mengisi les privat dari rumah ke rumah. Dari setiap anak, Lailatul mendapat honor Rp800 ribu. Dari pendapatannya itu, Lailatul masih sempat mengirimkan uang ke orangtua, terutama ketika ayahnya butuh uang untuk modal bertani di musim tembakau.

"Seingat saya, saya hanya mengeluarkan biaya Rp 10 juta untuk beli motor dan Rp 6 juta untuk beli laptop Lailatul. Selain itu, saya lebih sering dikirimi uang oleh Laila untuk modal bertani," kata dia.

Situs kompas.com, merilis, Lailatul Qomariyah menuturkan tidak pernah merasa minder karena berlatar belakang anak seorang tukang becak. Meskipun setiap hari dirinya naik ontel sejauh 5 km dari tempat kos ke kampusnya, hal itu tidak mengurangi semangat untuk meraih prestasi gemilang hingga lulus doktor dengan IPK 4.0. [Baca Juga: Data dan Alamat Kantor Media Massa di Kabupaten Pamekasan]

"Saya anak orang miskin, tapi saya tidak minder. Yang saya butuhkan adalah semangat orangtua, doa orangtua, dan kesabaran orangtua. Hasilnya saya petik saat ini dan untuk masa depan saya," ungkap Lailatul saat diwawancarai via telepon seluler.  Hari Minggu, 15 September 2019, Lailatul Qomariyah, anak kebanggaan Saningrat itu akan diwisuda. Saat sidang terbuka disertasi Lailatul pada 4 September 2019, Saningrat datang bersama enam saudaranya yang juga paman Lailatul. Saat sidang berlangsung, mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa yang menjadi perbincangan antara anaknya dan tujuh profesor yang menguji Lailatul. Pasalnya, bahasa yang digunakan bahasa Inggris.

"Saya dan paman-pamannya Laila hanya duduk kebingungan karena kami tidak mengerti bahasa Inggris. Kami ini orang kecil. Tapi sekarang saya bangga dengan anak saya. Bukan saya sombong dengan prestasi anak saya saat ini, saya mensyukuri nikmat besar anak saya bisa sampai doktor tanpa saya banyak mengeluarkan biaya," ungkap Saningrat.(PAMEKASAN HEBAT)